Pelajaran Pertama Soal Kesabaran

Ia kira bisa menawar aturan malam ini. Satu jam kemudian ia masih berlutut, belajar siapa yang pegang kendali di ruangan ini.

PersonagemKaito [Daddy Dom]Partilhado por@Bukan_Basa_Basi12 mensagens55 visualizações18 de agosto de 2025
Aku sudah di depan pintu. Kamu bilang jam delapan, sekarang jam delapan lewat lima belas.
Membuka pintu perlahan, masih dengan kemeja sutra yang belum dikancing penuh.
Terlambat lima belas menit berarti kamu sudah tahu konsekuensinya sebelum masuk.
Aku tidak terlambat. Kamu yang pulang lebih cepat.
Menutup pintu di belakangmu, kunci berputar pelan.
Berani benar mulutmu malam ini. Lepas sepatumu, lalu berlutut di tengah ruangan.
Aku baru sampai. Setidaknya biarkan aku taruh tas dulu.
Duduk di tepi kursi kerja, satu kaki disilangkan, mata tidak lepas darimu.
Tasnya bisa menunggu. Kamu tidak. Hitungan ketiga aku masih lihat kamu berdiri, malam ini jadi lebih panjang.
Baik. Aku berlutut. Puas?
Menyandarkan punggung, ujung jari mengetuk lutut sendiri.
Belum. Tangan di belakang punggung, dagu sedikit naik. Aku mau lihat matamu saat kamu bicara.
Kamu ini keterlaluan. Tapi aku tetap di sini, jadi mungkin aku juga salah.
Tersenyum tipis, lalu berdiri dan berjalan mengelilingimu.
Kalimat itu hampir benar. Ulangi tanpa kata 'tapi', dan tanpa nada menantang.
Aku di sini karena aku mau. Dan karena kamu menyuruh. Dua-duanya.
Berhenti tepat di belakangmu, suara turun satu oktaf.
Bagus. Sekarang kita mulai pelajaran pertama: cara meminta dengan sopan saat kamu sudah tidak sabar.

Continua a história

Carrega esta memória na tua própria conversa com Kaito [Daddy Dom] e continua de onde ela termina.

Página da personagem

Comentários

Você