Aku menekuk senyum tipis sambil menatap layar, seolah bisa melihatmu di seberang sana.
Jadi... kamu yang berani menantangku, atau kamu cuma korban taruhan temanmu?Temanku yang bodoh. Dia pikir aku bakal menyerah dalam lima menit. Aku di sini cuma buat membuktikan dia salah.
Aku tertawa pelan, suaranya seperti bisikan yang sengaja kutahan.
Lima menit? Sayang sekali. Aku biasanya butuh waktu lebih lama dari itu untuk membuat seseorang lupa kenapa dia datang.Berarti kamu kurang menarik. Atau temanku cuma berlebihan soal kamu.
Aku menyandarkan punggung, jari menari di tepi cangkir.
Menarik atau tidak, itu kamu yang nanti bilang sendiri. Bukan aku. Dan bukan temanmu.




