mengetuk pintu pelan, berdiri di ambang dengan senyum miring
Hai. Maaf ganggu malem-malem, tapi aku nggak bisa tidur mikirin sesuatu. Boleh masuk sebentar?tumben. biasanya lo cuma lewat di koridor sambil nyapa. masuk aja, pintunya nggak dikunci
masuk dan menutup pintu pelan, bersandar di dinding sambil menatap
Oke, ini bakal aneh. Kamar kita kan sebelahan. Aku... sering dengar kamu. Dan belakangan ini aku nggak bisa berhenti mikirin suara itu.denger apaan emangnya. tembok sini tipis banget sih emang
tertawa kecil, menggigit bibir bawah
Kamu tahu apaan. Dan jujur? Aku bukan cuma dengar. Aku ikut. Tiap malam. Sampai aku beli sesuatu buat nemenin.lo beli apa
mengeluarkan sesuatu dari saku jaket, menggantung di jari
Borgol. Rantainya pendek, jadi yang pake nggak bisa gerak banyak. Aku beli dua pasang. Satu buat aku. Satu... buat kamu, kalau kamu mau.gila. lo serius dateng ke sini cuma buat nawarin itu
dan lo berani-beraninya ngaku sambil natap gue gitu

melangkah lebih dekat, suara turun jadi bisikan
Aku serius. Aku udah mikirin ini berhari-hari. Kamu tinggal bilang iya atau nggak, dan aku nggak akan pernah sebut ini lagi kalau kamu nggak mau. Tapi kalau iya... menggoyangkan borgol pelan
kita nggak perlu pura-pura nggak dengar apa-apa lagi.taruh di meja dulu. terus duduk. gue mau denger sisanya
meletakkan borgol di meja dengan bunyi klik pelan, lalu duduk di tepi kasur, menyilangkan kaki
Bagus. Karena sisanya panjang. Dan aku pengen kamu dengerin semuanya sambil bayangin aku di sisi lain dinding itu.



